Senin, 19 Mei 2014

Kemahaan Allah dan Shalawat Cinta

Kita banyak mendapati kaum muslimin yang menuliskan setelah menyebut nama Allah dengan penulisan “s.w.t.” (yang dimaksudkan untuk subhaanahu wa ta’ala). Lantas bagaimana tanggapan ulamaa’ akan hal ini?

  Imam an Nawawiy rahimahullah berkata: “Dianjurkan bagi penulis hadits apabila melalui penyebutan (nama) Allah ‘azza wa jalla agar menuliskan kata-kata ‘azza wa jalla (yang maha perkasa lagi mulia) atau ta’ala (yang maha tinggi), atau subhanahu wa ta’ala (yang maha suci lagi tinggi), atau tabaraka wa ta’ala (penuh berkah dan maha tinggi), atau jalla dzikruhu (yang mulia sebutannya), atau tabarakasmuhu (pemilik nama yang penuh berkah), atau jallat ‘azhamatuhu (maha mulia kebesarannya), atau yang serupa dengannya. Hendaknya semua ucapan tersebut ditulis, meskipun dalam naskah aslinya tidak tertulis, karena hal ini bukan termasuk periwayatan, namun sekedar doa. Orang yang membaca (hadits) juga hendaknya membaca setiap ucapan yang telah sebutkan tadi, meskipun di dalam teks yang dibacanya doa-doa tersebut tidak disebutkan Janganlah dia merasa bosan mengulang- ulanginya. Barangsiapa yang lalai melakukannya niscaya akan terhalang meraih kebaikan yang amat besar dan kehilangan keutamaan yang sangat agung.” (Muqadimah Syarh Muslim, 1/204).

Dikisahkan oleh As-Suyuthi rahimahullah di dalam Tadribu Ar-Rawi bahwa orang yang pertama kali menyingkatkan (shalawat nabi menjadi) shad- lam-’ain-mim dihukum dengan dipotong tangannya [!!] (Dinukil dari Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 249) Maka bagaimana lagi jika dizaman tersebut didapati orang yang menyingkat nama Allah? Atau menyingkat pujian terhadapNya?! Adab Menulis Shalawat Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّۚ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ
ﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ
 
“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya
bershalawat untuk Nabi. Hai, orang-orang yang
beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (Qs. Al-Ahzaab: 56)


Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik di masa hidup maupun sepeninggal beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di sisi-Nya dan membersihkan beliau dari tindakan atau pikiran jahat orang-orang yang berinteraksi dengan beliau. Yang dimaksud shalawat Allah adalah puji-pujian- Nya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yang dimaksud shalawat para malaikat adalah do’a dan istighfar. Sedangkan yang dimaksud shalawat dari ummat beliau adalah do’a dan mengagungkan perintah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (Lihat penjelasan Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin Bab Shalawat Kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam). 

    Disunnahkan sebagian ulama mewajibkannya mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap kali menyebut atau disebut nama beliau, yaitu dengan ucapan: “shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Lihat penjelasan al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dalam sebuah riwayat dari Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

ﺍﻟﺒﺨﻴﻞ ﻣﻦ ﺫﻛﺮﺕ ﻋﻨﺪﻩ ﻓﻠﻢ ﻳﺼﻞ ﻋﻠﻲ
“Orang yang bakhil (kikir/pelit) itu ialah orang
yang (apabila) namaku disebut disisinya,
kemudian ia tidak bershalawat kepadaku
shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal no.
1736, dengan sanad shahih)

Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali mengatakan bahwa disunnahkan bagi para penulis agar menulis shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh, tidak disingkat (seperti SAW, penyingkatan dalam bahasa Indonesia – pent) setiap kali menulis nama beliau. [-tambahan abu zuhriy- atau jika berkeinginan, tidak menuliskannya sama sekali dan mengucapkannya secara lisan, sebagaimana yang dilakukan imam Ahmad ketika beliau menulis Musnad-nya, yang beliau bershalawat dengan lisan beliau. -penjelasan ini didapat dari kajian al-ustadz abdulhakim bin amir abdat-] Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat juga mengatakan dalam kitab Sifat Shalawat dan Salam Kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa disukai apabila seseorang menulis nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bershalawatlah dengan lisan dan tulisan. Ketahuilah, shalawat ummat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bentuk dari sebuah do’a. Demikian pula dengan makna salam kita kepada sesama muslim. Dan do’a merupakan bagian dari ibadah. Dan tidaklah ibadah itu akan mendatangkan sesuatu selain pahala dari Allah Jalla wa ‘Ala. Maka apakah kita akan berlaku kikir dalam beribadah dengan menyingkat salam dan shalawat, terutama kepada kekasih Allah yang telah mengajarkan kita berbagai ilmu tentang dien ini? Apakah kita ingin menjadi hamba-hamba-Nya yang lalai dari kesempurnaan dalam beribadah? Wallahu Ta’ala a’lam bish showwab. dikutip dari: http://muslimah.or.id/fikih/adab-salam-dan-shalawat.html.
 
 Beberapa perubahan tanpa merubah makna, dan dengan penambahan lafazh Arab dalam ayat dan hadits] Perkataan para ‘ulama mengenai penyingkatan shalawat An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Dianjurkan bagi penulis hadits… hendaknya menuliskan kata-kata shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna ketika menyebutkan nama Nabi (Muhammad), tidak dengan menyingkatnya, dan tidak pula mencukupkan diri pada salah satunya (salam atau shalawat saja).
 
semoga kita menjadi pengikut dan ummat yang selalu mengantarkan do'a kesejahteraan untuk Baginda Nabi Muhammad.

Minggu, 18 Mei 2014

Kucing binatang Istimewa

Nabi menekankan di beberapa hadits bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah SAW berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?



(saat minum )






(setelah makan, satu lelap...satu lagi masih macam nak lagi)


(selesai makan, mandi lagi ) ^_^


(ulalaaa....nak pejam, tapi belum bisa, pun tengah rindu mak) ^_^

(berpose dulu sayang) :)



Fakta Ilmiah 1

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.

Fakta Ilmiah 2

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang Didapatkan

Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.
Komentar Para Dokter Peneliti

Menurut Dr. George Maqshud, ketua laboratorium di Rumah Sakit Hewan Baitharah, jarang sekali ditemukan adanya kuman pada lidah kucing.
Jika kuman itu ada, maka kucing itu akan sakit.
Dr. Gen Gustafsirl menemukan bahwa kuman yang paling banyak terdapat pada anjing,
Manusia 1/4 anjing, kucing 1/2 manusia.
Dokter hewan di rumah sakit hewan Damaskus, Sa’id Rafah menegaskan bahwa kucing memiliki perangkat pembersih yang bemama lysozyme.
Kucing tidak suka air karena air merupakan tempat yang sangat subur untuk pertumbuhan bakteri, terlebih pada genangan air (lumpur, genangan hujan, dll)
Kucing juga sangat menjaga kestabilan kehangatan tubuhnya. Ia tidak banyak berjemur dan tidak dekat-dekat dengan air.
Tujuannya agar bakteri tidak berpindah kepadanya. Inilah yang menjadi faktor tidak adanya kuman pada tubuh kucing.
Fakta Ilmiah 3

Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.

Fakta Ilmiah Tambahan

Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.

Sisa makanan kucing hukumnya suci. Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.

Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.
Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R Al Baihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadits ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia. Mungkin ini pula-lah yang menyebabkan mengapa Rasulullah SAW sangat sayang kepada Muezza, kucing peliharaannya.

wallahua'lam

Selasa, 13 Mei 2014

Makna kata"lurus" dalam surah Al-Fathihah ayat ke 6



Pada surah Al-Fathihah tepatnya pada ayat ke 6 ada kalimat,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Sehingga ini menjadi satu pertanyaan, kenapa harus kata “Di jalan yang “LURUS”? Bukan di jalan yang “BENAR” bukankah seseorang dimintai berlaku benar terhadap agamanya, bukan berlaku lurus. Setelelah ditelaah dari segi agama dan semantik banyak kajian yang diketahui.
Berikut analisis saya.

  1. Depdiknas (2008:851), “lurus” adalah memanjang hanya dalam satu arah, tanpa belokan atau lengkungan (tentang garis, jalan,dsb).
Sedangkan kata “benar” dalam Depdiknas (2008:167) adalah sesuai sebagai mana adanya (seharusnya); betul; tidak salah.
  1. Berdasarkan tafsir Al-Quran, jalan yang lurus yang dimaksudkan adalah jalan hidup yang benar yang dapat membuat bahagia di dunia dan akhirat.

Dari pernyataan tersebut saya memahami bahwa jalan di dalam ayat ke 6 QS. Al-Fathihah ini menggambarkan makhluk meminta kepada penciptanya untuk di tujuki jalan yang lurus dalam artian hanya dalam satu arah saja. jika dianalogikan ke dalam kajian norma(adat) yang berlaku dalam kehidupan manusia kata lurus ini sudah tentu benar namun kata benar belum tentu lurus. Misalnya, jika di dalam agama seorang wanita diwajibkan berjilbab yakni berbusana muslim terusan panjang menutupi seluruh badan kecuali telapak tangan dan wajah yang biasa dikenakan oleh para wanita muslim. Namun jika kita melihat dari segi adat yang berlaku bukankah yang diminta adalah pakaian sopan saja. Pakaian sopan belum tentu berjilbab namun jika berjilbab menurut syariat sudah pasti sopan.

  1. Kata ”jalan” menurut kajian sintaksis dan semantiknya lebih layak disandingkan dengan kata “lurus”.
  2. Pada dasarnya ayat ini menganalogikan, sebab Al-Qur’an mempunyai bahasa yang tidak bisa ditandingi oleh manusia ataupun makhluknya. Dalam ayat ini seseorang meminta agar ditunjuki jalan yang lurus, ini dilafazdkan dengan hatinya, bukan gerakannya. Hatinya yang minta diluruskan, untuk selalu mengikuti jalan-jalan yang telah Allah gariskan untuknya. Tidak membelok kemana-mana hingga membuat dirinya lalai ataupun menjadi kafir. Pada dasarnya ayat-ayat Allah perlu kita kaji dengan hati.

Minggu, 11 Mei 2014

2 Analisisku tentang Tujuan Tuhan Ciptakan Sakit



Semenjak Tuhan memberikan kesempatan untukku kembali menghirup indahnya dunia, setelah aku sempat dipasangkan nyawa baru. Ada sebuah pertanyaan yang berlari-lari pikiranku  untuk apa Tuhan menciptakan rasa sakit? 
jika aku tanya pada orang-orang, kepada yang paham agama pastilah mereka menjawab.
"Tuhan ciptakan rasa sakit, agar kita bisa mengobati orang sakit kelaknya". 

itu jawaban yang masuk akal, namun bukan aku jika pertanyaanku hanya dijawab sesederhana itu. aku berfikir dan terus berfikir. aku teringat saat guru biologiku masa di Aliyah dulu memberikan pengajaran tentang reaksi otak terhadap ucapan. ya..ini menuntutku kembali membuka file-file yang telah ku simpan rapi di laptop lamaku.

Alhamdulillah, masih tersimpan. begini "rasa sakit sebenarnya tidak lebih dari persepsi yang dibuat otak sebagai respon terhadap jenis sentuhan dengan kekuatan tertentu"

 Sederhananya bisa kukatakan bahwa rasa sakit itu tidak ada. Rasa itu hanya diada-adakan saja oleh otak untuk suatu tujuan tertentu. Tapi untuk tujuan seperti apa?

Pertanyaan itulah yang baru saja terjawab olehku pagi ini.

Tadi pagi, aku pergi bersama kakak sepupuku ke toko buku Zanafa (milik ust Mansyur). Sambil mencari buku, kakakku berkata kepada anak laki-laki pertamanya yang bernama Zulyan untuk menjaga adiknya yang kecil bernama Alin sampai ibunya kembali dari mencari Al-Qur'an. selain aku, Zulyan dan Alin di sana, ada Aaufal anak ke dua dari kakak sepupuku tersebut. karena berebut buku bacaan dengan Alin, Naufal dengan sengajanya mendorong adik perempuannya tersebut. si Zulyan yang merasa bertanggung jawab terhadap Alin setelah diamanahkan Uminya tersebut langsung bertanya.
“adek dorong dek Alin sampai jatuh ya?” tanya Zulyan dengan marah.
  Naufal itu  belum cukup besar untuk mengetahui bagaimana berbohong seperti koruptor atau menyangkal seperti orang yang salah. Dengan tenangnya dia malah menjawab, “Iya, Fal dorong dedek Alin.” Sepertinya dia belum mengerti kalau yang dibuatnya itu salah.
Kemudian Zulyan menjitak kepala adiknyanya Naufal tersebut.

Sederhana sekali kan? Seorang anak kecil yang mendorong anak kecil lainnya dan ia dijitak. Namun begitu, dari cerita itulah tulisan ini dibuat.
Naufal pasti dia tak tahu kalau ia sedang berbuat salah. Itu tampak dari ekspresi wajahnya saat Zulyan bertanya padanya. Sepertinya anak itu belum mengerti apa itu konsep benar dan salah.

Kalau benar Naufal tadi tidak mengerti apa itu benar dan salah, maka jitakan Zulyan tadi harusnya merupakan pelajaran pertama yang ia terima. Rasa pedas dan sakitnya jitakan itu pasti membuatnya berpikir. " rasanya sakit sekali.”

Berikutnya Naufal akan berpikir, “Kenapa aku dijitak sedemikian kerasnya? Itu membuatku merasa sakit dan menderita. Pasti ada penjelasan rasional dibalik semua penderitaan ini.”

Pikirannya itu akan mengarahkannya untuk berpikir lagi, “Memangnya apa yang telah kulakukan sehingga kak Zulyan yang jelas-jelas abangku sendiri merasa pantas untuk memberiku sedikit penderitaan ini? Apa karena aku mendorong adikku hingga terjatuh.”

Monolog itu memang fiktif, aku bukan seorang ahli pembaca fikiran orang lain, walau aku telah belajar bahasa dan kejiwaan anak.  tapi kira-kira seperti itulah proses yang terjadi dalam otaknya secara psikologis. Monolog itu terjadi begitu cepatnya sehingga ia pun tidak menyadarinya. Satu-satunya hal yang menjadi jelas baginya adalah, sekarang dia menyadari apa yang dilakukannya itu salah.

Dalam hati aku memberi tepuk tangan untuk Zulyan yang telah mengajarkan pelajaran yang begitu penting. Walaupun aku tak yakin apa ia menyadari pelajaran apa yang telah ia berikan pada kita semua.

pertanyaaku telah terjawab, Tuhan ciptakan rasa sakit untuk mengajari kita BENAR dan SALAH.

lalu tiba-tiba..aku teringat lagi,   

Aku baru ingat, pada saat semester 2 perkuliahanku di program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia pada kajian Perkembangan Peserta Didik dan dilanjutkan pula pada semester 3 pada kajian belajar dan Pembelajaran dalam ilmu pedagogi (keguruan) ada yang disebut Reward and Punishment. Ini adalah pelajaran paling mendasar yang digunakan dimana-mana dalam dunia pendidikan khususnya. Untuk yang baik kita beri hadiah, untuk yang buruk kita beri hukuman. Konsep pengajaran ini begitu sederhana sehingga metode ini bisa digunakan untuk mengajari hewan (yang tidak punya akal) seperti pada penelitian yang dilakukan yaitu pada anjing dan tidkus dan anak-anak (yang akalnya belum berkembang)

Metode pengajaran ini pun digunakan untuk manusia seluruhnya. Hanya saja Tuhan memberinya nama yang agak berbeda. Pahala dan Dosa. Pahala bernilai positif sementara Dosa bernilai negatif. Akumulasi dari jumlah pahala dan dosa ini nantinya bisa ditukar (Redeem) dengan Taman Surga atau Jurang Neraka sebagai tempat kembali.

Kalau kupikir-pikir apa yang diciptakan Tuhan ini ada benarnya juga. Bagaimana lagi cara mengajari anak tentang benar dan salah jika bukan dengan penderitaan dari rasa sakit. Anak itu belum cukup dewasa untuk mengerti artinya tatapan mata kemarahan atau kata-kata sindiran. Tidak ada cara lain selain memanfaatkan potensi reseptor paccini (sensor rasa sakit) yang ditanamkan Tuhan ke bawah kulit anak itu.

lagi-lagi mencari data

Aku yakin tidak hanya itu hikmah dari penciptaan sensasi rasa sakit dalam kepala kita. Maka aku mencari data lainnya dan menemukan sesuatu yang menarik. aku teringat 2 tahun yang lalu, aku pernah mendengar di televisi aku lupa acara apa, mungkin spotlite yang menyajikan vidio di suatu tempat (aku lupa dimana) ada seorang anak yang terlahir tanpa reseptor rasa sakit.artinya anak ini tidak akan pernah merasa sakit. tapi hal ini dalam dunia kesehatan adalah kabar buruk. artinya si anak akan tumbuh tapa rasa sakit. bayangkan ketika anak bermain dengan temannya dia akan memukul dan melakukan kekerasan pada temannya, karena dia sendiri tidak pernah paham dan bahkan tidak pernah merasakan rasa sakit itu.


akhirnya aku jadi mengerti bahwa rasa sakit tidak hanya diciptakan untuk mengajari benar dan salah tapi juga untuk melindungi diri kita sendiri. Sensor rasa sakit memberitahu kita bahwa jika bagian tubuh ini terus-menerus kena tusukan, pukulan atau tekanan maka lama kelamaan organ tubuh bagian dalam juga bisa rusak dibuatnya. 

pertanyaanku lagi-lagi terjawab, Tubuh merasa perlu untuk menyiksa diri kita sendiri dengan  rasa sakit, karena jika tidak ada peringatan seperti itu kita
tidak akan hati-hati menjaga organ dalam tubuh kita.

Setelah mengetahui betapa teganya tubuh kita memberi kita rasa sakit demi mencegah keburukan yang lebih besar, aku jadi tersadar. 
Mengapa kita menjadi begitu kejam dengan berdiam diri saat melihat teman kita menyakiti dirinya sendiri? Ya, setiap hari teman kita menyakiti dirinya sendiri tapi mereka tak sadar telah melakukannya. Apa kita tega membiarkan mereka terus begitu hingga ia mati?


Mungkin sahabatku belum sadar apa yang kubicarakan. Aku sedang membicarakan teman-teman kita yang hobi bermaksiat. Aku sedang membicarakan teman-teman kita yang telah gelap hatinya untuk menyadari bahwa apa yang ia perbuat adalah sebuah kesalahan. Aku sedang membicarakan mereka yang suka meninggalkan shalat, suka membicarakan keburukan-keburukan orang, dan suka peluk-pelukan dengan pacarnya. aku sedang membecirakan tentang sahabat-sahabat kita yang saat ini masih suka ngefly, suka minum dan bahkan ngoplos minuman keras dengan berbagai oplosannya. Bukankah mereka itu sejatinya sedang menyakiti diri (Jiwa dan Batin) mereka sendiri?

Tidakkah sahabat merasa perlu untuk menjadi alarm (pengingat) bagi mereka? Karena pembiaranmu itu sama dengan membiarkan anak kecil yang tak punya rasa sakit tadi membenturkan kepalanya ke dinding hingga otaknya pecah. Bukankah akal teman kita itu akan mati jika kita terus membiarkannya menyakiti jiwanya sendiri (sementara ia tidak mengetahui).

Kita harus menegurnya, terkadang mereka yang saat ini sedang dalam keterjerumusannya tidak menyadari apa itu salah dan benar. tegurlah. aku mohon, aku tidak akan bisa menegur sendiri, karena aku hanya punya satu mulut, makanya aku menulis ini, agar sahabat mampu membantuku. aku ingin membawa sahabatku berjalan disampingku, agar kita sama-sama pada satu tempat.

aku teringat masa kelamku ketika aku menulis ini, aku teringat masa terburuk hidupku, andai tiada satupun yang mengingatkanku, sudah pasti akan menjadi manusia yang mati dalam kemaksiatan. aku mohon dnegan segala hormat, Tegurlah sahabat kita. mereka membutuhkan kita.


mungkin sahabat akan berkata, tapi Ulul akukan belum cukup suci untuk mengingatkan mereka. aku katakan itu bagus. artinya kita bisa bersama-sama saling mengingatkan. aku juga tidak sesuci para wali Allah, namun kita tercipta sebagai khalifah. tolonglah.
Aku rasa sudah jelas ya.

Akhirnya aku ucapkan terima kasih kepada sahabatku yang sudah membaca catatan ini. Jangan lupa untuk diamalkan karena ilmu tidak ada apa-apanya kecuali ia disebar dan diamalkan. Mulai sekarang jadilah teman yang tega! Karena Terkadang Rasa Sakit Itu Perlu.