Minggu, 22 Juni 2014

Golput bukan Salahku


 Sahabat setiaku, segala puji kemahaan-Nya, malam ini aku masih bisa menuliskan beberapa analisaku tentang kehidupan ini. Tulisanku kali ini terinspirasi dari soal ujian semeter 6 ku pada mata kuliah semantik beberapa hari yang lalu. karena di sana aku tidak bisa mengulasnya begitu detail efek kertasnya yang dituntut untuk hemat dan waktu yang terbatas  .. hihihi....Namun seperti biasa sebelum menuliskannya, aku harus terlebih dahulu mencari sumber-sumber rujukan yang melogiskan tulisanku.

Alhamdulillah, malam ini, Allah beri aku kesempatan lagi, untuk bertemu dengan satu permasalahan. tentang debat capres. hingga bertambahlah pemahamanku kenapa pada akhirnya sebagaian orang memilih untuk golput (golongan putih).
selain itu pula, aku juga terinpirasi dari dua kubu yang saling menjatuhkan dan mengatakan kalau dirinyalah yang benar dan baik. padahal pada dasarnya adalah, yang baik itu tidak akan pernah menyatakan dirinya baik.
satu lagi yang menjadi dasar apa yang membuat aku tertarik dengan soalan ini, yakni pernyataan sahabat nonmuslimku tentang pernyataan yang dicetuskan oleh komunitas dakwah tersebut.

Bagiku, tidak ada yang salah dengan golongan ini. namanya saja sudah golongan putih. bila di analisa..putih ini biasa melabangkan kebersihan, kebaikan dan kesuciankan ?
Golput di negara demokrasi seperti kita sekarang ini dianggap sebagai kesalahan. Tidak menggunakan hak suara yang dimiliki adalah seperti sebuah penyia-nyiaan. Nyatanya, ada terlalu banyak orang yang tak peduli tentang siapa yang akan memimpinnya kelak. Apalagi jika batas pemikiran mereka hanya sampai apa yang akan mereka makan besok. Bagaimana mau peduli, siapa pun yang pada akhirnya memimpin tidak akan berpengaruh banyak bagi mereka.


Secara keilmuan mereka pun kurang memadai. KPU harus sering-sering mengedukasi mereka untuk jadi pemilih yang pintar. Menyedihkan jika mereka hanya pandai memilih siapa calon yang mau datang ke kampung mereka atau punya cukup banyak uang untuk menyantuni saudara-saudara mereka.

Kalau kita melihat ke kota, dimana banyak profesional bercokol dan bekerja di kantor-kantor, barulah kita menjumpai apa yang kusebut sebagai pemilih pintar. Yaitu orang yang bisa cukup melek politik. Dan mengerti mana pemimpin yang bagus, mana yang tidak. Itu pun sebenarnya karena mereka punya kepentingan di dalamnya tapi setidaknya itu cukup untuk membuat mereka jadi pemilih yang pintar. Dan perlu diketahui jumlah mereka tidak terlalu banyak.


Aku jadi teringat dengan konsep demokrasinya Plato yang kata orang sebagai cikal bakal demokrasi sekarang ini padahal berbeda. Demokrasi kita membuat semua orang memilik hak pilih. Kalau demokrasi Plato mengatakan bahwa, hanya orang yang sudah cukup ukhrawi (sufistik) yang tak lagi memikirkan diri sendiri dan dunia sehingga ia sudah cukup bijak, hanya merekalah yang boleh memilih.

Demokrasi yang kita buat sekarang ini terlalu banyak mudratnya.

1. Dengan mengikutkan pemilih bodoh, suara akan rusak
Jika ada calon yang punya cukup banyak uang untuk mengelabui si pemilih bodoh yang jumlahnya banyak maka ia bisa menang dari calon yang lebih pantas jika mereka miskin. Itulah yang kurasa menyebabkan banyak rakyat miskin menyesal punya presiden mereka. Apa boleh buat, itu salah mereka sendiri karena terpesona dengan iklan dan TV. Mereka tak benar-benar tahu mana yang terbaik.

2. Dalam sila ke-4 yang ada Permusyawaratan bukan Demokrasi
Dalam sistem musyawarah, yang juga diusung Nabi, suara yang sedikit pun bisa menang, jika pendapatnya kuat. Karena mayoritas belum tentu benar (Coba ingat pada zaman jahiliyah dan jahiliyah modern, mana yang lebih banyak, kebaikan atau keburukan?)

Demokrasi menghendaki yang banyak yang menang. Calon yang punya kekuatan besarlah yang bisa menguasai forum. Rimba kan?


Jadi, dari pada si bodoh-bodoh ini meramai-ramaikan pemilu dan mengacaukan suara baik kurasa lebih baik jika mereka tidak usah memilih saja. Masalahnya adalah negara memprovokasi mereka, supaya marah kalau hak suaranya diambil. Tapi Alhamdulillah, masih banyak orang yang kalau diambil hak suaranya mereka masih berkata, “bodo wae”

Jadi pertanyaan apa kalian cukup pintar untuk memilih? Soalnya kalau tidak, tanpa mengurangi rasa hormat, lebih bagus gak usah aja  (serahkan saja pada yang ahli)
aku rasa pernyataan "Indonesia Milik Allah" itu selain mengandung unsur sara, namun juga ada hal positif dan negatifnya.


Dalam lembaran jawaban yang aku punya, aku isi seperti ini
positifnya : orang akan mengangap bahwa segala sesuatu yang ada di indonesia ini milik Allah sehingga apapun itu yang mereka kerjakan akan kembali kepada Allah, pada akhirnya akan membuat mereka sadar bahwa mereka harus baik-baik kepada bumi Indonesia (bagi orang yang berilmu, beriman dan menyakini Allah di hatinya)

negatifnya : orang akan berfikir bahwa setiap yang ada di Indonesia karena milik Allah, artinya apapun boleh di ambil, kan itu milik Allah, bukan miliknya..artinya dia boleh mengambil hak orang lain, tanah orang lain, buahan0buahan orang lain "itukan milik Allah" ( bagi orang yang tidak berilmu, tidak beriman dan tidak ada Allah di hatinya).

Lalu untuk pernyataan sahabatku yang nonmuslim : "kan, bukan Indonesia saja ?"
lalu ini jawabanku : ya, bukan Indonesia saja namun mereka yang mencetuskan kata-kata tersebut juga begitu berambisi untuk menegakkan negara khilafah lalu menolak mentah-mentah sistem demokrasi yang dalam edeologi mereka itu adalah produk negara sekuler.

Tidak ada yang salah dengan demokrasi dan tidak ada yang salah dengan negara khilafah. yang salah itu adalah ambisi-ambisi para tokoh di dalamnya. (ini hanya akan dimengerti bagi yang berfikir dan berilmu serta yang selalu Allah dihatinya).
Ditambah lagi untuk yang paling penting pada persoalan ini, "tidak ada yang salah dengan golput, yang salah itu adalah siapa yang membuat mereka pada akhirnya memilih untuk golput".

Pemilih cerdas itu adalah yang memikirkan semua tanpa terkecuali, yang meletakkan segalanya pada dasar hukum Allah dan Nabi
semoga menjadi pemilih yang berilmu dan beriman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar